Senin, 13 Agustus 2012

Yusuf Arimatea (Rabu, 8 Agustus 2012)

Bacaan hari ini: Matius 27:57-61 “Menjelang malam datanglah seorang kaya, orang Arimatea, yang bernama Yusuf dan yang telah menjadi murid Yesus juga. Ia pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus.” (Matius 27:57-58a) Pada hari ketika Yesus disalib, para pemimpin Yahudi merasa sangat puas dan menang. Namun pertanyaannya, siapakah yang akan menurunkan mayat-Nya untuk dikubur? Menurut Ulangan 21:22-23, setiap mayat yang digantung di tiang harus segera diturunkan dan dikubur. Tetapi, siapakah yang akan melakukan tugas ini? Seharusnya, yang paling bertanggung-jawab adalah ke-sebelas murid Yesus, tetapi mereka sudah melarikan diri karena takut. Seandainya pun ke-sebelas murid mau melakukan hal ini, mereka akan terbentur pada kesulitan untuk bertemu Pilatus, guna memperoleh izin menurunkan mayat Yesus. Untuk kebutuhan tersebut, Yusuf Arimatea memberanikan diri datang kepada Pilatus dan meminta mayat Yesus. Siapakah Yusuf Arimatea ini? Nama ini belum pernah disebutkan sebelumnya dalam Alkitab. Injil Yohanes hanya mencatat bahwa dia adalah murid Yesus yang tersembunyi, dan salah satu dari anggota Sanhedrin. Yusuf Arimatea disimpan Tuhan sampai pada satu waktu, di mana dia harus muncul menghadap Pilatus. Momen ini merupakan momen yang luar biasa, karena tidak ada orang lain yang bisa masuk menghadap Pilatus untuk menyelesaikan penguburan Tuhan Yesus. Allah mempersiapkan Yusuf Arimatea selama bertahun-tahun untuk momen ini. Demikian juga, Allah telah mempersiapkan Ratu Ester untuk menyelamatkan bangsa Yahudi yang ingin dibinasakan oleh Haman. Mordekhai berkata kepada Ratu Ester, “Jangan kira, karena engkau di dalam istana raja, hanya engkau yang akan terluput dari antara semua orang Yahudi. Sebab sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain, dan engkau dengan kaum keluargamu akan binasa. Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu” (Est. 4:14). Bagaimana dengan Anda? Jika Allah menggerakan hati Anda untuk mengerjakan sesuatu bagi kemuliaan-Nya, siapa tahu inilah saatnya Anda bertindak! STUDI PRIBADI: Percayakah Anda bahwa Allah telah mempersiapkan segala sesuatu untuk menggenapkan rencana-Nya? Apakah Allah juga memiliki rencana bagi Anda? DOAKAN BERSAMA: Berdoalah kepada Tuhan, agar Ia memberikan kepada setiap kita kepekaan untuk mengerti kehendak-Nya, sehingga kita dapat bertindak dengan tepat, sesuai waktu dan rencana-Nya.

Reputasi Murid Kristus (Selasa, 07 Agustus 2012)

Bacaan hari ini: 1 Petrus 2:11-17 “Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja!” (1 Petrus 2:17) Pentingkah penilaian orang lain terhadap diri kita? Apakah reputasi baik itu penting bagi anak-anak Tuhan? Dalam bukunya, Life as a Vapor, John Piper menyatakan, “Kita harus mempedulikan penilaian orang lain terhadap kita sebagai wakil Kristus. Sedangkan penilaian orang lain tentang diri pribadi kita, tidaklah penting.” Ini berarti sebagai anak-anak Tuhan kita juga membawa reputasi Kristus di dalam diri kita. Apakah Kristus ditinggikan melalui hidup kita? Atau, reputasi Kristus justru merosot karena cara hidup kita yang salah? Sebagai anak-anak Tuhan, kita mempunyai tugas penting, yaitu menjaga reputasi Kristus di dalam diri kita. Dalam suratnya yang pertama, Petrus memberikan nasihat kepada jemaat untuk memperhatikan cara hidup mereka di tengah masyarakat. Ia menyebut jemaatnya sebagai “kaum pendatang dan perantau”. Sebutan ini terkait dengan status kewarganegaraan jemaat sebagai pendatang dalam kekaisaran Romawi. Selain itu, penyebutan ini juga menunjuk pada status setiap kita yang adalah pendatang di dunia ini. Karena kita adalah warga Kerajaan Allah, kita berbeda dan menjadi sorotan dunia ini. Ini berarti, kita harus memperhatikan cara hidup kita di tengah mereka yang hidup di dunia ini. Bagaimana caranya? Pertama, menjauhkan diri dari keinginan daging (ay. 11-12), sebab keinginan daging berasal dari dunia (Gal. 5:19-21) dan tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Kedua, tunduk pada pemerintah (ay. 13-15). Pemerintah merupakan lembaga yang didirikan dan ditetapkan Allah untuk melindungi kita dari kekacauan dan pelanggaran hukum sebagai akibat dari dosa. Karena itu kita harus tunduk kepada pemerintah. Ketiga, hidup selayaknya orang yang merdeka (ay. 16-17), yakni hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Sebagai penutup, tiap anak Tuhan diperintahkan untuk: Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormati raja! Bagaimana dengan Anda? Mari kita mau berusaha menjaga reputasi Kristus dalam hidup kita, sehingga ketika orang lain melihat ke dalam hidup kita, nama Kristus semakin dimuliakan. STUDI PRIBADI: Apakah selama ini kita telah menjaga reputasi Kristus dengan baik? Apakah melalui hidup kita, orang-orang dapat melihat kemuliaan Tuhan? DOAKAN BERSAMA: Berdoalah agar Roh Kudus membantu kita hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Berdoalah agar hidup kita tidak menjadi batu sandungan bagi orang-orang di sekitar kita, melainkan menjadi berkat bagi yang membutuhkan.

Menghitung Hari (Senin, 06 Agustus 2012)

Bacaan hari ini: Mazmur 90 “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” (Mazmur 90:12) Ada dua tipe orang di dunia ini. Pertama, orang yang suka menunda-nunda, yaitu orang yang terlalu santai dalam menghadapi hidup. Prinsipnya: “masih ada hari esok”. Sedang tipe yang kedua adalah orang yang bijak, yaitu yang tidak suka membuang-buang waktu dengan percuma. Prinsipnya: “esok ‘kan terlambat”. Termasuk tipe manakah kita? Tema Mazmur 90 ini membahas mengenai kehidupan manusia yang sangat singkat. Mazmur ini ditulis Musa sebagai refleksi dari kehidupan bangsa Israel ketika di padang gurun. Musa melihat bagaimana kehidupan mereka dipenuhi kesukaran dan penderitaan karena murka Allah yang menimpa mereka. Pada ayat 7 dikatakan, “Sungguh, kami habis lenyap karena murka-Mu”; pada ayat 8 dikatakan, “Engkau menaruh kesalahan kami di hadapan-Mu”; dan pada ayat 9 dikatakan, “Sungguh, segala hari kami berlalu karena gemas-Mu, kami menghabiskan tahun-tahun kami seperti keluh.” Karena melihat penderitaan yang dialami bangsa Israel lah, Musa lalu merefleksikan kehidupan manusia. Di mata Tuhan, manusia itu seperti debu, tidak ada artinya sama sekali. Bahkan dikatakan, “seribu tahun tidak ada artinya, hanya seperti satu hari saja di hadapan Tuhan.” Frase ini menunjukkan bahwa hidup manusia berlalu sangat cepat; manusia lahir, bertumbuh dewasa, tua, lalu meninggal; semua proses ini berlangsung begitu cepatnya. Karena itulah Musa memanjatkan permohonan pada Tuhan, “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana” (ay. 12). Dalam Alkitab versi Bahasa Indonesia sehari-hari, doa ini dituliskan, “Sadarkanlah kami akan singkatnya hidup ini supaya kami menjadi orang yang berbudi.” Ketika menjalani kehidupan di dunia ini, satu hal yang harus kita sadari, yakni “hidup ini sangat singkat.” Sesungguhnya, kematian adalah sesuatu yang tidak terduga. Dan, tidak seorang pun tahu kapan ia akan mengakhiri hidupnya. Karena itu, kita harus menggunakan waktu-waktu yang ada dengan bijak. STUDI PRIBADI: Bagaimana selama ini kita mengisi hidup kita? Apa yang seharusnya kita lakukan dalam hidup yang singkat ini? DOAKAN BERSAMA: Berdoa bagi diri kita sendiri, agar kita selalu diberikan hikmat dan bijaksana dalam menjalani kehidupan ini, sehingga kita menggunakan waktu-waktu ini dengan bertanggung-jawab dan memuliakan Tuhan.

Menghargai dan Mengefektifkan Anugerah Allah (Minggu, 05 Agustus 2012)

Bacaan hari ini: 1 Korintus 15:10 “Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras...” (1 Korintus 15:10) Suatu kali, seorang peminta-minta mendapatkan belas kasihan dari seorang jutawan yang memberinya uang 10 juta. Dalam hidupnya, ia tidak pernah menerima uang sebanyak itu. Maka, ia pun bergumul, untuk menyimpannya di bank dan tetap melakukan pekerjaannya seperti biasa; atau ia tidak lagi menjadi peminta-minta, dan memulai hidup yang baru sebagai wiraswastawan. Pergumulannya tidak mudah, karena ia tidak memiliki pengalaman dan telah bertahun-tahun ia menjadi peminta-minta. Akhirnya, satu keputusan diambil, bahwa ia tidak akan menyia-nyiakan kemurahan jutawan tersebut, dan ia tidak ingin menjalani kehidupan lamanya lagi sebagai peminta-minta. Alhasil, kehidupannya pun berubah dan ia menjadi seorang pengusaha. Kisah ini mengingatkan kita terhadap apa yang Allah sudah kerjakan dalam hidup kita. Ia sudah memberi kepada kita anugerah keselamatan dan menjadikan kita anak-anak-Nya. Namun, berapa banyak di antara kita yang berusaha menghargai anugerah itu dengan hidup berkenan dan melayani Dia. Jika dahulu kita hidup untuk kepentingan diri sendiri, adakah hari ini kita hidup untuk kepentingan Kerajaan Allah? Peminta-minta yang menjadi pengusaha tersebut, pada akhirnya menjadi rekan kerja jutawan yang murah hati. Ia senang, dan hidupnya semakin efektif dalam pekerjaannya yang baru. Bagaimana dengan kita? Paulus telah merasakan anugerah Allah, ia tidak lagi menyia-nyiakan anugerah itu. Jika dahulu ia melayani ke-ego-annya, sekarang ia melayani Allah. Anugerah yang Tuhan berikan kepadanya menjadi efektif dalam hidupnya. Ia semakin bekerja keras dalam pelayanan dan menjadi “rekan sekerja Allah” dalam ladang-Nya (1Kor. 3:9). Jika hari ini kita menyadari anugerah Allah, masihkah kita mau hidup dalam kehidupan lama kita? Hidup untuk diri sendiri dan tidak pernah beranjak dari sana? Janganlah demikian! Mulailah dengan gaya hidup yang baru, yaitu hidup bagi Tuhan dan bekerja keras bagi kemuliaan-Nya; sebab segala jerih payah kita tidak sia-sia! (1Kor. 15:58), dan kita disebut: “hamba yang baik dan setia!” STUDI PRIBADI: Apa yang membuat Paulus mengalami perubahan hidup? Bagaimana caranya Paulus menghargai anugerah Allah dalam hidupnya? DOAKAN BERSAMA: Berdoalah bagi jemaat agar mereka mulai memikirkan keterlibatan mereka dalam perluasan kerajaan Allah di muka bumi ini, dan semakin efektif dalam hidup mereka bagi Tuhan.

Masih Untung Saya Mau Melakukannya! (sabtu, 04 Agustus 2012)

Bacaan hari ini: Roma 12:1-2 “…demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu… persembahkanlah tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah…” (Roma 12:1) Sesungguhnya dampak individualisme dalam kehidupan masyarakat modern sangat besar, sehingga ke-ego-an mereka begitu nampak dalam mempertahankan hak mereka; tetapi tidak demikian, ketika mereka diminta untuk memperhatikan orang lain, mereka begitu rapuh dan kurang peduli. Gaya hidup demikian tanpa terasa telah menghantam sendi-sendi kehidupan iman Kristen. Dalam melayani Tuhan maupun mengasihi sesama, kita tidak lagi melakukannya berdasarkan firman Tuhan, tetapi berdasarkan “privasi” kita. Itulah sebabnya pada masa kini, ada kalanya kita menjumpai ucapan yang menyentak hati kita, yaitu: “Masih untung, saya mau melayani!” atau “Masih untung, saya mau menyumbangkan uang saya untuk pelayanan gereja!” atau “Masih untung, saya mau datang ibadah! Jadi, jangan pernah paksa saya!” Kesan yang muncul dari ucapan tersebut adalah, orang tersebut ingin melakukan pelayanan, ibadah atau memberikan persembahan, jika dirinya tergerak. Namun sebenarnya, tidak demikian. Ia sedang menjunjung tinggi privasi atau ke-ego-annya. Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, Paulus menegaskan: “Demi kemurahan Allah, aku menasihatkan kamu, persembahkanlah tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah...” (Rm. 12:1). Apa yang Paulus harapkan? Ia mengharapkan, jemaat memiliki kesadaran, bahwa totalitas hidup mereka adalah kepunyaan Tuhan, yang harus dipersembahkan kepada Tuhan, sehingga tidak ada satupun yang menjadi privasi dan hak mereka. Tuhan memiliki mereka, karena mereka telah ditebus oleh Tuhan, dan harganya telah lunas dibayar! Karena itu, yang menjadi satu-satunya hak kita adalah “melayani Dia.” Paulus menyebut kita sebagai “hamba-hamba Allah” (Rm. 6:22). Seorang hamba tidak mungkin mengatakan kepada Tuannya: “Masih untung, saya mau melakukannya!” Hamba yang demikian sama dengan “hamba yang tidak setia” dalam perumpamaan tentang talenta dalam Matius 25:14-30, di mana pada akhirnya, hamba itu disebut “hamba yang jahat dan malas,” dan tidak berkenan di hati Tuhan. STUDI PRIBADI: Perhatikan perumpamaan tentang talenta di Matius 25:14-30; apakah yang diucapkan hamba yang menerima satu telenta dapat dibenarkan? Jelaskan! DOAKAN BERSAMA: Berdoalah bagi orang Kristen agar mereka tidak hidup menuruti keegoisan mereka, tetapi sebaliknya hidup sebagai hamba-hamba Allah yang berkenan kepada-Nya dan mensyukuri segala kemurahan Allah dalam hidupnya.

"Terhilang" di Tengah Keluarga (jumat, 03 Agustus 2012)

Bacaan hari ini: 1 Samuel 2:12-25 “Adapun anak-anak lelaki Eli adalah orang-orang dursila, mereka tidak mengindahkan Tuhan.” (1 Samuel 2:12) Tuntutan akan kebutuhan ekonomi keluarga yang tinggi pada masa kini menuntut kita sebagai orang tua harus bekerja ekstra keras. Kita melakukannya sebagai bagian dari tanggung jawab kita kepada anak-anak, dengan maksud agar mereka mendapatkan kehidupan dan pendidikan yang layak. Namun sadarkah kita, bahwa tanggung jawab kita sebagai orang tua, tidak berhenti sampai di situ. Ada kebutuhan lain yang harus diperhatikan secara serius, yaitu “kebutuhan rohani.” Sayangnya, pada masa kini banyak “keluarga” tidak menjadi tempat pembelajaran dan bertumbuh-kembangnya iman anak-anak. Padahal, keluarga adalah tempat yang sangat strategis dan efektif bagi pemenuhan kebutuhan rohani mereka. Meskipun menjadi orang tua di masa kini lebih sulit dan sibuk, karena berbagai faktor kebutuhan sosial-ekonomi, tapi hal ini tidak seharusnya menjadi alasan bagi kita untuk tidak memperhatikan pertumbuhan iman mereka. Jika kita mengabaikannya, maka kita sedang membuat anak-anak kita “terhilang” di tengah keluarga sendiri. Ironis, bukan?! Salah satu contohnya adalah “anak-anak imam Eli” (1 Samuel 2:12). Alkitab mencatat, mereka disebut sebagai “orang dursila,” padahal mereka adalah orang-orang yang tinggal dan melayani di rumah Tuhan, bersama ayahnya, seorang imam. Mengapa mereka terhilang, bukan di luar lingkungan keluarga, tapi justru di dalamnya? Alkitab menjelaskan, karena Imam Eli (sebagai orang tua) kurang memperhatikan kerohanian mereka dan tidak mendidik mereka secara serius dalam jalan Tuhan. Apa hasilnya? Anak-anak Imam Eli hidup tidak berkenan di hadapan Tuhan, sehingga mereka dihukum-Nya. Sebagai orang tua, kita harus senantiasa memperhatikan kebutuhan rohani mereka, sebagaimana kita memperhatikan kebutuhan fisik mereka. Jika mereka belum berdoa, baca firman, atau bertumbuh dalam imannya, kita perlu menolong mereka untuk melakukannya. Jika untuk makan-minum kita mau mengusahakannya secara serius, tidakkah terlebih lagi kebutuhan rohani mereka yang berdampak kekal! Mulailah perhatikan! STUDI PRIBADI: Menurut Anda, mana tempat yang efektif dan strategis bagi bertumbuh-kembangnya iman anak-anak? Coba jelaskan! DOAKAN BERSAMA: Berdoalah bagi setiap orang tua Kristen, agar mereka dapat memperhatikan kebutuhan rohani anak-anak mereka secara serius, sehingga kelak mereka mampu menjadi orang Kristen yang takut Tuhan.

Kapan Lagi Mengasihi Orang Tua? (kamis, 02 Agustus 2012)

Bacaan hari ini: Pengkhotbah 3:1, Kolose 3:20 “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun dibawah langit ada waktunya.” (Pengkhotbah 3:1) Kompetitif usaha, kerja, prestasi, dan karir dapat membuat kita lupa untuk memperhatikan orang tua. Tenaga, pikiran dan waktu kita curahkan untuk mencapai cita-cita kita. Gaya hidup semacam ini (individualistis) telah mengancam keharmonisan dan perhatian antar anggota keluarga. Perubahan kultur kehidupan yang mementingkan diri sendiri telah menggeser tradisi kehidupan yang harmonis, yang dibangun generasi sebelumnya. Alhasil, kehidupan keluarga masa kini mulai memasuki keadaan yang genting, jika belum dikatakan hancur. Bayangkan saja, seorang anak yang mengejar karir, tapi tidak pernah peduli dengan keadaan orang tuanya. Kejayaannya bukan menjadi bagian yang dapat mempererat hubungan orang tua-anak, tetapi justru merenggangkannya. Pengkhotbah mengingatkan kita, bahwa “untuk segala sesuatu di bawah kolong langit ini ada waktunya” (Pkh. 3:1). Ini berarti, kehidupan orang tua kita ada waktunya; termasuk kesempatan berkarir kita, juga ada waktunya. Apapun ada waktunya. Lalu apa yang harus kita pilih? Sebagai orang muda, kita lebih tertarik memakai waktu kita untuk mencapai impian kita daripada meluangkannya bersama dengan orang tua kita, seperti bercakap-cakap ringan atau mengenang masa kecil kita, dsbnya. Kita memilih untuk sibuk dengan dunia kita sendiri, sehingga lambat laun, keluarga menjadi tempat “terasing” bagi kita; kita tidak lagi memiliki hasrat yang kuat untuk bisa bersama dengan mereka. Salahkah kita, jika kita menghabiskan waktu untuk berkarir? Memakai waktu untuk berkarir tidaklah salah, tetapi jangan lupa bahwa ada “nilai-nilai kekal” yang harus kita perhatikan. Manakah yang memiliki nilai kekal, apakah itu “mengasihi orang tua,” atau “meniti karir”? Peluang untuk berkarir bisa saja kita dapatkan kembali, tapi kesempatan mengasihi orang tua tidak akan terulang lagi, ketika waktu mereka telah meninggalkan dunia ini. Jadi, selagi ada kesempatan, sesibuk apapun, perhatikanlah mereka; karena itu adalah perintah Tuhan (Kol. 3:20). STUDI PRIBADI: Jika kesempatan mengasihi orang tua bernilai kekal, apa yang harus kita lakukan? Mengapa mengasihi orang tua merupakan suatu keharusan? DOAKAN BERSAMA: Berdoalah bagi anak-anak muda yang seringkali melupakan orang tua mereka, bahkan mengabaikan mereka, agar mereka menyadari perintah Tuhan dan kembali mengasihi orang tua mereka.

Jalan Menuju Kehidupan (rabu, 1 Agustus 2012)

Bacaan hari ini: Amsal 8:32-36 “Karena siapa mendapatkan aku, mendapatkan hidup, dan Tuhan berkenan akan dia.” (Amsal 8:35) Hampir setiap tindakan kita selalu memiliki tuntunan, contoh, atau pola yang harus kita perhatikan dengan baik. Misalnya, ketika kita ingin mengendarai mobil, maka kita harus memperhatikan sejumlah rambu-rambu jalan dan teknik mengendarai mobil yang baik. Semuanya ini dimaksudkan untuk menolong kita sampai di tujuan dengan selamat, dan mengendarai mobil sesuai aturan, sehingga kita tidak ditilang oleh polisi lalu lintas. Jika untuk hal-hal semacam ini kita rela memperhatikannya secara serius, bagaimana dengan “jalan kehidupan” kita? Hidup yang kita jalani, bagaikan sebuah mobil yang sedang kita kendarai dan sedang menuju suatu tempat tertentu. Problemnya adalah, kita sering kali tidak memikirkan aturan main kehidupan ini, dan tidak memikirkan secara serius tujuan akhir hidup ini. Penulis Amsal mengajak kita untuk secara serius memikirkan “jalannya kehidupan” ini. Apa yang diajarkannya? Kita harus menemukan pola, cara, atau tuntunan hidup yang dapat memberikan kita kepastian, bahwa kita telah “mengendarai mobil kehidupan” ini dengan benar. Jika kita ingin menemukan tuntunan ini, maka kita harus menemukan “si-aku” dalam Amsal 8:35. Siapakah dia? Apakah Salomo? Bukan! Dia adalah “hikmat kehidupan,” sebuah metafora tentang “Yesus Kristus” (bdk. Yoh. 1:1-3; 14:6). Ini berarti, jika seseorang sudah memiliki Yesus, maka ia sudah memiliki jaminan kehidupan (bdk. 1Yoh. 5:13). Maka langkah yang harus kita kerjakan selanjutnya adalah “jalankan” hidup ini sesuai tuntunan-Nya. Ibarat sebuah mobil yang sedang kita kendarai sesuai aturannya, maka kita tidak akan takut dalam perjalanan kita; sebab kita pasti akan tiba di tempat tujuan dengan sukacita. Jika kita percaya Kristus dan hidup di dalam firman-Nya, maka kita tidak perlu takut dalam hidup ini, sebab kita akan tiba pada tujuan hidup kekal kita dengan sukacita. Karena itu, perhatikanlah sungguh-sungguh bagaimana Anda menjalankan kehidupan ini di hadapan Tuhan! STUDI PRIBADI: Apakah kehidupan yang kita jalani ini sesungguhnya memiliki aturannya? Jelaskan! Siapakah hikmat kehidupan yang dimaksudkan dalam Kitab Amsal 8 tersebut? DOAKAN BERSAMA: Berdoalah bagi setiap orang Kristen agar mereka hidup meneladani Kristus dan menjalankan kehidupan mereka sesuai dengan kebenaran firman Tuhan, sehingga menjadi teladan bagi orang lain juga.

Minggu, 30 Oktober 2011

Tegoran dan Hajaran Tuhan (4)

Bacaan hari ini: Wahyu 3:14-22 (lanjutan)
“Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah.” (Wahyu 3:19)

Allah menegor, bahkan menghajar ketika kita melakukan kesalahan dan dosa, oleh karena Dia sayang kepada kita. Allah mau supaya kita merelakan hati mengaku kesalahan dan bertobat. Tujuan utama dari tindakan Allah tersebut adalah pertobatan hidup kita. Tetapi, apakah yang dimaksud dengan pertobatan itu?

Seringkali orang berpikir bahwa mengaku dosa adalah pertobatan. Tapi itu adalah separuh kebenaran. Pertobatan sejati bukan hanya sekadar mengaku dosa saja, tapi juga disertai dengan tindakan nyata lainnya; yakni berubah arah, kembali kepada jalan Allah, kembali melakukan apa yang benar dan bukan hanya berhenti melakukan kesalahan saja.

Firman Allah (Alkitab) bukan saja berfungsi untuk mengajar dan menyatakan kesalahan saja, tetapi juga untuk memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran (2Tim. 3:16). Allah bukan hanya mau kita mengakui kesalahan kita, tetapi juga memperbaiki kesalahan dengan cara mengarahkan hidup dan pelayanan kita kembali ke dalam kebenaran, dalam jalan-Nya sendiri. Allah mengijinkan kita melakukan kesalahan, kemu-dian Dia akan menegor dan membimbing kita kembali ke dalam kebenaran—itu adalah pengalaman pertumbuhan rohani yang sesungguhnya.

Pertobatan sejati bukan saja melibatkan unsur pengakuan, tapi juga keinginan untuk kembali pada jalan Allah, mengerjakan kembali panggilan Allah yang semula. Gereja Laodikia harus kembali mengerjakan fungsi dan panggilannya, demikian juga dengan setiap institusi, keluarga, dan pribadi-pribadi Kristen. Setiap orang bisa melakukan kesalahan, tapi setiap orang percaya yang sejati juga harus mempunyai hati yang peka, kerelaan untuk bertobat dan kembali kepada Allah. Bagaimana dengan Anda? Sudahkah Anda kembali mengerjakan kebenaran-Nya? Itulah yang menjadi kerinduan Tuhan atas kita, anak-Nya. Karena itu, marilah kita menghidupi kebenaran-Nya, dan bukan sekadar mengakui kesalahan kita di hadapan-Nya, sebab Allah tidak menghendaki kita sebagai orang yang tahu kebenaran, tetapi pelaku kebenaran.

STUDI PRIBADI: Apa arti pertobatan yang sesungguhnya; apakah hanya sekadar menyesali kesalahan, atau memperbaiki yang salah dengan mengerjakan yang benar? Alasannya?
DOAKAN BERSAMA: Berdoalah bagi setiap orang Kristen supaya mereka tidak saja mengetahui kesalahan mereka, tapi juga mau berbalik dari kesalahan mereka dan hidup bagi kebenaran Allah, sehingga mereka menyukakan hati Allah.

Tegoran dan Hajaran Tuhan (3)

Bacaan hari ini: Wahyu 3:14-22 (lanjutan)
“Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah.” (Wahyu 3:19)

Allah menegor dan menghajar kita karena kasih, tetapi tindakan Allah yang baik ini tidak selalu mudah ditangkap oleh yang bersangkutan, baik secara pribadi, di dalam lingkup keluarga, maupun organisasi yang lebih besar. Contoh kehidupan umat Allah yang tercatat dalam Alkitab dan kesaksian hidup kita sendiri membuktikan bahwa memang tidak begitu mudah untuk dapat memahami kebenaran agung ini. Mengapa begitu?

Pertama, karena ini berhubungan dengan kepekaan untuk menyadari kesalahan diri sendiri. Kedua, juga berhubungan dengan kerelaan untuk mengakui kesalahan. Sekalipun kita peka atau tahu, bahwa kita telah melakukan kesalahan, namun seringkali kita tidak memiliki kerelaan untuk mengakuinya di hadapan Tuhan; bahwa kita cenderung mengabaikannya. Sulitnya kita melakukan keduanya, karena keduanya berhubungan dengan ego kita yang begitu sensitif. Mengetahui suatu kesalahan adalah lebih mudah, karena itu bergantung pada pengetahuan kita tentang benar atau salah; tapi untuk mau menyadari dan mengakuinya adalah jauh lebih sulit karena dominasi ego atas diri manusia, begitu kuat. Namun, itulah yang Allah harapkan dari kita; agar kita mau menyadari dan mengakuinya!

Orang berubah menjadi lebih baik, bukan hanya pada saat dia tahu tentang yang benar dan yang salah, tapi justru dimulai ketika dia menyadari dan mengakui kesalahannya. Respons hati terhadap tegoran Tuhan, itulah titik awal dari perubahan hidup yang sejati. Allah menegor kesalahan anak-anak-Nya, dan Allah mau supaya anak-anak-Nya menyadari apa yang sedang terjadi, dan mengakuinya.

Orang lebih mudah melihat dan menilai suatu kesalahan yang dilakukan orang lain, tapi sulit menyadari dan mengakui kesalahan dirinya, sehingga tidak ada perubahan terjadi dalam hidupnya. Hal ini membutuhkan kepekaan hati kita untuk menyadari suatu kesalahan, dan membutuhkan kerendahan hati untuk mengakui kesalahan. Semua itu, jika kita lakukan, akan mendatangkan rasa malu dan sakit, tetapi Allah menuntut respon demikian, karena Dia ingin kita menjadi baik dan berkenan kepada-Nya.

STUDI PRIBADI: Apa yang membuat kita tidak peka terhadap kesalahan kita? Apa yang membuat kita tidak mau mengakui kesalahan?
DOAKAN BERSAMA: Berdoalah bagi pemuda/i Kristen agar mereka memiliki kepekaan terhadap kesalahan serta kerendahan hati untuk mengakuinya di hadapan Tuhan, sehingga mereka menjadi taat kepada Tuhan sejak masa muda.

Tegoran dan Hajaran Tuhan (2)

Bacaan hari ini: Wahyu 3:14-22 (lanjutan)
“Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah.” (Wahyu 3:19)

Allah menegor dan menghajar bukan karena tersinggung, sakit hati, atau marah, tapi karena Dia mengasihi kita, dan Dia melakukannya demi kebaikan kita. Allah tidak mau kita terus dalam kesalahan, hati menjadi semakin keras, kemudian melakukan kesalahan yang lebih besar lagi; karena semua itu hanya akan membawa kita terpuruk semakin dalam, semakin jauh dari Tuhan, semakin gagal, dan hidup semakin menderita.

Ketika kita melakukan kesalahan, seringkali kita tidak sadar apa akibat buruknya. Karena itu kita cenderung meremehkan kesalahan, membiarkan satu kesalahan berkembang kepada kesalahan yang lainnya. Namun Allah mengetahui secara komprehensif segala konsekuensi buruk dari suatu tindakan kesalahan yang kita lakukan. Allah tahu bahwa efek domino dari suatu dosa pada akhirnya adalah kehancuran total, dan Dia sama sekali tidak rela hal tersebut terjadi atas gereja-Nya, atas kehidupan anak-anak-Nya yang Dia kasihi.

Allah begitu mengasihi gereja dan orang-orang percaya sehingga Dia rela mengorbankan Anak-Nya sendiri untuk menebus kembali semuanya. Dia begitu peduli dengan umat pilihan-Nya, sehingga Dia tidak bisa tinggal diam. Seorang bapak atau ibu yang baik, pasti akan menegor, mencegah atau memperingatkan anaknya ketika anaknya mulai melupakan nasihat mereka dan memilih untuk melakukan hal-hal yang dia senangi, sekalipun hal itu adalah salah dan berbahaya. Orang tua yang sayang kepada anak, tidak rela melihat anak mengalami akibat buruk dari kesalahannya. Hanya orang tua yang bodoh, yang membiarkan anak-anaknya melakukan kesalahan yang membawa mereka kepada kehancuran.

Allah mengasihi anak-anak-Nya dengan kasih yg sempurna. Didorong oleh kasih yang begitu besar dan tulus, Allah tidak membiarkan gereja dan anak-anak-Nya, hidup terus-menerus dalam kesalahan. Dia menegor dan menghajar kita demi kasih-Nya; semua itu dilakukan-Nya untuk kebaikan kita, anak-Nya, agar kita dapat senantiasa hidup memuliakan Dia. Marilah kita menyadari hal ini!

STUDI PRIBADI: Mengapa Allah memberikan teguran dan hajaran-Nya kepada kita? Apa tujuan teguran Allah bagi kita, untuk mencelakai atau memperbaiki kita?
DOAKAN BERSAMA: Berdoalah bagi mereka yang sedang mengalami didikan Tuhan agar mereka tidak memberontak, tetapi tetap percaya akan kasih Tuhan, yang sekalipun menghajar, Tuhan yang akan membalutnya.

Tegoran dan Hajaran Tuhan (1)

Bacaan hari ini: Wahyu 3:14-22
“Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah.” (Wahyu 3:19)

Gereja Laodikia adalah gereja yang telah kehilangan fungsinya, karena dalam kekayaannya mereka telah melupakan Tuhan. Perihal menjadi kaya sendiri bukanlah suatu kesalahan, tetapi melupakan dan mengabaikan Tuhan merupakan kesalahan yang fatal, karena ketika Tuhan sudah tidak menjadi pusat lagi, maka semua yang dilakukan sudah tidak ada lagi maknanya.

Tuhan tidak mengabaikan kesalahan, apalagi yang dilakukan gereja-Nya. Kadang untuk sesaat Tuhan mendiamkan, tetapi ketika kesalahan itu dilakukan sampai pada titik tertentu, Allah akan bertindak. Ia akan menegor dan menghajar Gereja dan orang-orang yang dikasihi-Nya.

Tuhan menegor dengan cara halus, melalui peringatan-peringatan tertentu, baik melalui firman-Nya, maupun melalui kejadian-kejadian yang bersifat negatif, seperti ketidaklancaran atau kegagalan hidup. Sekalipun tantangan, kesulitan, sakit penyakit dan kegagalan hidup, tidak selalu berarti Tuhan sedang menegor, kadang Tuhan memakai hal itu untuk menguji dan melatih iman kita. Tuhan juga bisa memakai semuanya itu untuk menegor kesalahan umat-Nya. Ketika peringatan atau tegoran yang ringan dari-Nya tidak ditangkap dengan baik, maka Tuhan bisa memakai cara yang lebih keras; Dia menghajar!

Karena itu, janganlah cepat bersungut-sungut atau bahkan menyalahkan Tuhan atas pengalaman hidup yang tidak baik, atau peristiwa buruk yang menimpa kita. Adalah jauh lebih baik kalau kita belajar menjadi lebih peka terhadapan kehendak Tuhan. Ketika gereja, keluarga, atau kehidupan pribadi mengalami “masalah,” barangkali itulah saatnya di mana Tuhan ingin kita mengevaluasi kembali hidup maupun pelayanan kita, barangkali semua itu terjadi karena hidup dan pelayanan kita telah kehilangan fungsi yang semula, seperti jemaat di Laodikia. Dia menegor dan menghajar, ketika kita melakukan kesalahan. Bagaimana dengan kehidupan Anda hari ini? Belajarlah peka terhadapan kesalahan yang kita lakukan dan tegoran yang Tuhan berikan kepada kita!

STUDI PRIBADI: Bagaimana cara Allah menegor umat-Nya yang berbuat salah pada-Nya? Apakah setiap persoalan yang menimpa kita berarti Allah sedang menegor kita? Alasannya!
DOAKAN BERSAMA: Berdoalah bagi jemaat agar mereka memiliki kepekaan terhadapan didikan dan tegoran Tuhan dalam hidup mereka sehingga mereka dapat mengalami pertumbuhan rohani dan pengenalan yang baik terhadap Tuhan.

Jumat, 16 September 2011

RENUNGAN (30 september 2011)

Alkitab: Firman Allah

Bacaan hari ini: 2 Timotius 3:15-17
“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” (2 Timotius 3:16)

Kehidupan kita sebagai orang Kristen sangat membutuhkan Alkitab; bukan karena kita tidak mempunyai kepandaian atau pengalaman hidup, tetapi karena Alkitab adalah firman Allah. Isi Alkitab, bukan sebagian berisi firman Allah dan sebagian lainnya bukan; atau beberapa kitab adalah karya Allah, sebagian lagi karya manusia. Tidaklah demikian! Alkitab adalah firman Allah, karena:

Pertama, Alkitab diilhamkan oleh Allah sendiri. Dalam bahasa Yunani, kata “diilhamkan,” memakai kata “theopneustos,” yang secara literal berarti “dinafaskan oleh Allah.” Pengertian istilah ini menunjukkan bahwa Alkitab dalam bentuk awalnya (autographa) adalah hasil atau produk dari pengilhaman Allah. Karena itu, muncul sebuah istilah yang menjelaskan hal ini, yaitu “what scripture says, God says” (apa yang Alkitab katakan, itu juga yang dikatakan Allah). Dalam Alkitab, ungkapan “Allah berkata” dan “Alkitab berkata” dipakai secara bergantian (misalnya dalam Kej. 12:3 dan Gal. 3:8; Kel. 9:16 dan Rm. 9:17; Kej. 2:24 dan Mat. 19:4-5; Mzm. 16:10 dan Kis. 13:35; Mzm. 104:4 dan Ibr. 1:7).

Kedua, sekalipun Alkitab ditulis oleh manusia dari latar belakang yang berbeda, tetapi apa yang mereka hasilkan (Alkitab) adalah karya Allah, atau firman Allah yang menyatakan kehendak-Nya bagi keselamatan manusia (bdk. 2Ptr. 1:20-21). Alkitab (PL dan PB) bukan rekayasa manusia, tetapi firman Allah, karena ide yang tertuang dalam Alkitab memiliki satu gagasan utama dan satu kesatuan, yaitu karya penebusan yang dikerjakan oleh Kristus. Tidak mungkin, dari era yang berbeda dan konteks kehidupan yang berbeda, dapat terjalin gagasan yang harmoni dan kontiniu yang dihasilkan manusia, kecuali jika Allah yang berada di baliknya.

Jadi, karena Alkitab adalah firman Allah, maka Alkitab adalah penuntun yang dapat dipercaya bagi kehidupan kita. Mulailah membaca Alkitab dan merenungkannya, sehingga kita beroleh petunjuk yang benar dan tuntunan hidup yang berguna, sesuai kehendak Allah. Jadikanlah Alkitab bacaan kesukaan kita, agar kita menjadi bijak.

STUDI PRIBADI: Mengapa Alkitab adalah firman Allah? Bukanlah Alkitab ditulis sendiri oleh manusia? Jelaskan! Apa manfaat kita merenungkan firman Allah?
DOAKAN BERSAMA: Berdoalah bagi jemaat Tuhan agar mereka rajin membaca Alkitab sehingga memimpin mereka kepada kebenaran, dan mereka pun hidup memuliakan Tuhan dan menyenangkan hati Tuhan.

RENUNGAN (29 september 2011)

Pentingnya Mata Rohani

Bacaan hari ini: 1 Samuel 17:40-54
“Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam...” (1 Samuel 17:45)

Secara umum manusia memiliki kecenderungan untuk lebih mudah melihat dan bersandar pada apa yang kelihatan dengan mata jasmaninya, daripada apa yang tidak kelihatan. Dalam kasus pertempuran antara Goliat dan Daud, kita menemukan bahwa keduanya memiliki cara penilaian yang berbeda, ketika mereka saling berhadapan sebagai lawan.

Pertama, Goliat. Jika kita hidup pada masa itu dan ditanya, “manakah yang akan memenangkan pertempuran, apakah Goliat dan Daud?” Maka kita akan lebih mudah mengatakan, “Goliatlah pemenangnya!” Mengapa demikian? Sebab dari ukuran perawakan, secara di pandang mata, Goliat memang jauh lebih besar dan kuat daripada Daud (1Sam. 17:4-7); bahkan Goliat sendiri meremehkan Daud, karena perawakannya yang masih muda dan senjata yang dibawanya juga tidak sebanding dengan miliknya (1Sam. 17:42-43). Dan, inilah cara penilaian/pandang, yang seringkali juga kita lakukan. Kita tidak begitu yakin dengan apa yang kita miliki, bahkan ketika persoalan menghadang, kita mengukurnya dari kekuatan kita sendiri, dan melupakan Tuhan!

Kedua, Daud. Berbeda dari Goliat, Daud tidak melihat pertempuran tersebut dari ukuran kekuatan jasmaniah, atau senjata yang dimilikinya. Ia melihat pertempuran itu dari “mata rohaninya,” bahwa apapun senjata yang dimilikinya, jika Tuhan di pihaknya, ia tidak perlu takut. Secara jasmaniah, Daud kalah dalam segalanya, tapi di balik ketidak-proporsionalan senjatanya, ada Tuhan yang berkuasa memberikan kemenangan padanya (1Sam. 17:45-47). Keberhasilan atau kemenangan umat Tuhan tidak bergantung pada kekuatannya sendiri ataupun apa yang ia miliki, tetapi terletak pada Tuhan yang menyertainya.

Bagimana dengan kita? Apakah kita mempercayai Allah, terlibat aktif di balik setiap hal yang kita hadapi? Janganlah kita berkecil hati; jika secara jasmaniah kita sangat lemah dan tidak mungkin menyelesaikan persoalan kita. Pandanglah Tuhan yang menuntun kita; Ia baik dan memberikan yang terbaik bagi hidup kita (Rm. 8:28).

STUDI PRIBADI: Siapakah yg menjadi sumber kemenangan Daud dalam melawan Goliat? Apakah kekuatan yang besar dapat menjadi jaminan keselamatan hidup kita? Alasannya!
DOAKAN BERSAMA: Berdoalah bagi tiap orang Kristen agar tidak menghadapi masalah dengan mengandalkan kekuatannya sendiri, tetapi bersandarkan pada kuasa Tuhan sehingga mereka senantiasa menaruh harap kepada-Nya.

RENUNGAN (28 september 2011)

Yang Terbaik Bagi Tuhan (3)

Bacaan hari ini: Imamat 1:1-17 (lanjutan)
“Hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.” (Efesus 5:2)

Korban bakaran yg dibakar oleh imam di atas mezbah, menimbulkan bau yang menyenangkan hati Tuhan (ay. 9, 13). Pertanyaannya: “Bagaimana caranya persembahan itu bisa menimbulkan bau yang menyenangkan hati Tuhan? Apa resepnya, sehingga bau persembahan itu disenangi Tuhan?” Jawabannya adalah: Karena persembahan itu sesuai dengan apa yang Tuhan kehendaki, Sang Penentu Kelayakan itu sendiri.

Prinsip ini jugalah yang dapat kita lihat dalam soal natur keberdosaan manusia yang kemudian dilayakkan oleh Allah untuk menerima keselamat-an dan menyembah Dia. Manusia tidak memperoleh keselamatan dengan cara dan usahanya sendiri, tetapi harus dengan cara Allah. Manusia yang berdosa tidak mungkin dapat memberikan persembahan diri yang sesuai dengan tuntutan Allah. Tuntutan-Nya adalah kesempurnaan, karena Dia adalah sempurna. Oleh sebab itu, Allah sendiri datang ke dalam dunia ini untuk kemudian menjadi korban pendamaian bagi manusia yang tidak berdaya itu. Persembahan yang sejati hanya ada di dalam kesempurnaan Kristus saja, Anak Domba Allah yang tak bercacat, yang hanya oleh-Nya, manusia memperoleh kelayakan untuk menimbulkan persembahan yang baunya menyenangkan hati Tuhan.

Karena itu, dalam hal ini, tidak seorangpun boleh merasa bahwa dirinya yang lebih “baik” dari orang lain, atau persembahannya yang lebih banyak dan lebih “baik” dari orang lain, sebagai sesuatu hal yang membuat-nya lebih layak di hadapan Tuhan, dibandingkan orang lain. Karena, pada dasarnya memang setiap kita telah dilayakkan dan dimungkinkan untuk dapat memberikan persembahan yang layak, hanya semata-mata karena pengorbanan Kristus di atas kayu salib. Hanya dengan pengorbanan Kristus, kita dapat mempersembahkan hal yang seturut dengan tuntutan-Nya. Hal yang dapat kita lakukan saat ini adalah mensyukuri pengorbanan Kristus itu dan dengan rendah hati berjuang untuk menjaga agar apa yang sudah dikaryakan Kristus itu, tidak ternodai dengan cara hidup kita yang sembarangan.

STUDI PRIBADI: Apa yg membuat persembahan atau pelayanan kita berkenan pada Allah? Mengapa setelah memberikan yang terbaik kepada Tuhan, kita tidak boleh berbangga diri?
DOAKAN BERSAMA: Berdoalah bagi setiap orang Kristen agar ketika mereka telah melayani dan memberikan persembahan yang terbaik, mereka tetap sadar bahwa semua itu adalah karena kemurahan Tuhan yang diberikan kepada mereka.

RENUNGAN (27 september 2011)

Yang Terbaik Bagi Tuhan (2)

Bacaan hari ini: Imamat 1:1-17 (lanjutan)
“Demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1)

Korban bakaran disebut juga sebagai kurban yang terbakar seluruhnya (whole offering), sebab seluruh binatang korban harus dibakar atau dihabiskan oleh api, termasuk kepala, kaki, lemak dan organ-organ dalam—kecuali kulitnya yang menjadi milik sang imam (Im. 7:8). Dari ketentuan ini, dapat dilihat pelajaran penting tentang penyerahan yang total dalam hal persembahan pada Tuhan. Seseorang yang memberikan korban bakaran diajar untuk menyampaikan dedikasi penuhnya kepada Tuhan.

Pemberian yg berdedikasi penuh bukan berarti hendak mengajarkan pada umat untuk tidak memiliki harta, atau untuk hidup miskin tanpa suatu barang milik apapun, tetapi hendak mengajarkan arti penting dari “ketaatan dan kesiapan seorang penyembah, yang menggambarkan suatu sikap yang tunduk berserah kepada Tuhan.” Umat Israel (juga orang Kristen hari ini) dapat mengingat akan bagaimana dedikasi penuh dari Abraham leluhur mereka saat diuji, yaitu bukan dengan tuntutan untuk menyerahkan semua harta miliknya, tetapi untuk memberikan anak yang dikasihinya sebagai korban bagi Tuhan. Tuntutan itu adalah menguji ketaatan dan kesiapan Abraham untuk tunduk berserah kepada Tuhan. Ia memang sudah membe-rikan banyak hal yang baik bagi Tuhan, tetapi yang Tuhan ingin adalah dedikasi penuh.

Bagaimana dengan diri kita? Ada kalanya, orang Kristen yang sudah mengambil bagian dalam pelayanan dan persembahan, merasa diri sudah cukup memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Orang yang seperti ini akan sulit menerima, jika suatu kali Tuhan meminta sesuatu hal yang lebih dari apa yang dianggapnya terbaik. Tuhan menuntut adanya dedikasi penuh, agar kita sadar bahwa segala milik kita dan segenap keberadaan kita saat kita hidup di dunia adalah milik Tuhan. Karena itu, kita harus mau untuk selalu taat dan siap atas apapun yang Tuhan ingin dari kita, untuk kita berikan dan lakukan bagi Dia. Sebaliknya, ketidaksiapan dan ketidaktaatan kita akan menunjukkan bahwa sebenarnya kita memang belum pernah memberikan totalitas hidup kita itu kepada Tuhan.

STUDI PRIBADI: Apa arti dari “dedikasi penuh” yang Tuhan kehendaki dari kita? Mengapa kita harus memberikan sesuatu dengan dedikasi yang penuh kepada Tuhan?
DOAKAN BERSAMA: Berdoalah bagi jemaat agar mereka tidak tinggi hati ketika mereka telah memberikan pemberian yang terbaik bagi Tuhan, sebaliknya mereka rendah hati dan semakin berdedikasi penuh pada Tuhan.

RENUNGAN (26 september 2011)

Yang Terbaik Bagi Tuhan (1)

Bacaan hari ini: Imamat 1:1-17
“Maka TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman kepadanya: Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela...” (Kejadian 17:1)

Korban bakaran adalah korban yg paling umum dilakukan dari semua korban yang dipersembahkan oleh umat Israel. Korban ini diadakan dengan tujuan sebagai pendamaian bagi dosa secara umum, sekaligus ketaatan dan penyerahan sipenyembah kepada Tuhan. Salah satu pelajaran penting dari persembahan korban ini adalah berkenaan dengan persyaratan (jenis dan kondisi) binatang yang boleh dipersembahkan. Tuhan telah menentukan tiga golongan binatang, yaitu: lembu, kambing-domba dan burung (jenis burung dikhususkan bagi mereka yang kurang mampu). Tuhan tegas menyatakan bahwa jenis ternak yang dipersembahkan harus yang jantan, plus tidak bercela. Mengapa demikian?

“Jantan dan tidak bercela” di sini menunjukkan suatu kualitas yang terbaik. Jantan dianggap menunjukkan nilai yang lebih besar dari betina, juga melambangkan kekuatan serta kesuburan. Adapun kondisi yang tidak bercela jelas melambangkan kesempurnaan. Dengan pemberian korban ini, umat Israel akan belajar tentang siapa Allah yang mereka sembah. Allah itu kudus dan sempurna, sehingga tidak bisa tidak, Dia hanya cocok untuk menerima dan menuntut hal yang sesuai dengan keberadaan-Nya itu.

Demikian pula dari jenis binatang ini, kita belajar bahwa Tuhan tidak pernah menuntut kesamaan dari semua orang, karena setiap orang me-miliki kemampuan yang berbeda-beda, tetapi Tuhan menuntut yang sama, yaitu “kualitas yang terbaik.” Tuhan menuntut persembahan yang terbaik, pelayanan yang terbaik, serta kualitas hidup Kristen yang terbaik, karena memang Dia adalah Allah yang sempurna dan yang layak menerima yang terbaik dari umat-Nya.

Bagaimana dengan kita? Mari kita berhenti membanding-bandingkan jumlah persembahan, jenis pelayanan atau kehidupan kita dengan orang lain. Jangan merasa diri lebih mampu ataupun lebih baik dari orang lain. Sebaliknya, mulailah mengevaluasi diri, apakah segala sesuatu yang kita lakukan bagi Tuhan, merupakan pemberian yang terbaik; yang seharusnya dipersembahkan kepada-Nya?

STUDI PRIBADI: Mengapa dalam memberikan korban kepada Tuhan, harus dengan syarat-syarat tertentu? Pelajaran apa yang kita peroleh dan dapat kita aplikasikan dalam hidup kita?
DOAKAN BERSAMA: Berdoa bagi jemaat agar mereka senantiasa hidup menyukakan hati Tuhan sesuai ukuran yang Tuhan telah berikan pada mereka, tanpa membanding-bandingkan kemampuan mereka dengan orang lain.

RENUNGAN (25 september 2011)

Tak Habis-habisnya Rahmat-Nya

Bacaan hari ini: Ratapan 3:22
“Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya.” (Ratapan 3:22)

99% pemeliharaan umum Tuhan bagi kita adalah repetisius; artinya, terjadi “pengulangan demi pengulangan.” Misalnya, setiap pagi Tuhan menerbitkan matahari, ada musim hujan, bahkan Ia menyediakan oksigen, dan terus menyediakan makanan bagi kita. Tuhan tidak pernah berhenti melakukan hal ini secara rutin. Secara umum, inilah bukti tak berkesudahan kasih setia TUHAN. Ia memberikan apa yang kita perlukan, setiap hari!

Anda mungkin tidak menyadari bahwa Tuhan mengulang pemeliharaan-Nya hari lepas hari. Tuhan juga melakukan hal-hal yang rutin. Bosankah Dia? Wah, jika Dia bosan, celakalah kita! Bagaimana dengan Anda, apakah Anda merasa bosan dengan rutinitas? Marilah mencoba menghidupinya dan mengerjakan pekerjaan rutinitas dengan bersemangat dan sukacita. Ingatlah bahwa Tuhan sanggup menolong setiap kita dan tak habis-habisnya rahmat-Nya. Dengan pertolongan tangan Tuhan, kita akan ber-semangat dan bergairah mengerjakan rutinitas tersebut.

Seorang ibu pernah merasa bosan masak, “Mau masak apa hari ini? Kok rasanya resepnya itu lagi-itu lagi. Mau masak ayam goreng, kayaknya baru kemarin masak. Masak apa ya... aduh bosan aku!” Namun hari itu, ia berdoa, “Tuhan, masak apa hari ini?” Tiba-tiba Tuhan memberikan insight, ibu tersebut masak steak dan masakannya enak sekali! Padahal, seumur hidup sang ibu tidak pernah masak steak. Karena pertolongan Tuhan, apa yang membosankan berubah menjadi menyenangkan.

Bagaimana dengan Anda? Pada saat ini, Anda mungkin mengalami kebosanan, maka segera datang kepada Tuhan. Jika Anda datang dengan penuh kerendahan hati, jujur, tulus dan hati yang terbuka, maka Tuhan akan memimpin dan memberikan jalan keluar bagi Anda. Mungkin Anda bosan menjalani kehidupan pernikahan Anda, cobalah berdoa! Berdoalah dengan istri atau suami, “Tuhan kami perlu kesegaran, antusiasme dan dimensi baru dalam pernikahan kami. Kiranya Engkau menganugerahkan rahmat baru bagi kami berdua.” Nantikan jawaban Tuhan! Dia akan mencurahkannya bagi Anda berdua!

STUDI PRIBADI: Apakah artinya, bahwa “tak berkesudahan kasih setia Tuhan”? Apa yang Anda rasakan dari pengalaman kasih setia Tuhan dalam kehidupan Anda setiap hari?
DOAKAN BERSAMA: Berdoalah bagi jemaat agar mereka senantiasa mengandalkan Tuhan dalam segala hal, termasuk hal-hal kecil dalam kehidupan mereka hari lepas hari, sehingga pengalaman bersama Tuhan boleh nyata dalam hidup mereka.

RENUNGAN (24 september 2011)

Family-Man

Bacaan hari ini: 1 Timotius 3:4
“Seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya.” (1 Timotius 3:4)

“Family-Man” adalah seorang (suami/ayah) yang kebahagiaannya “digali” dari keluarga. Sukacitanya memuncak ketika ia berada di tengah-tengah keluarga. Seorang Ayah, ketika hendak pulang kerja, tentu senang jika bertemu isteri dan anak-anak. Karena itu, ia ingin cepat-cepat sampai di rumah; “Home Sweet Home.”

Namun ada kalanya hal semacam ini tidak terjadi. Ketika waktu pulang kerja tiba, kita justru berseru, “Aduh, celaka!” Tampaknya, kita tidak ingin cepat-cepat pulang, atau justru kita senang berlama-lama di tempat kerja. Kita sibuk dengan diri sendiri atau pekerjaan kita. Bahkan, kita mencari-cari aktivitas yang tidak perlu, seperti makan dulu di kantor, atau ke café, atau menyibukkan diri di gereja. Itulah sebabnya, kita kehilangan “relationship” dengan anggota keluarga kita.

Hari ini, apakah kita menjadi seorang Ayah semacam ini? Apakah kita adalah seorang pribadi yang gila kerja? Jika hal ini terjadi pada kita, maka sangat sulit bagi kita untuk dapat membangun kedekatan dengan keluarga. Untuk membangun kedekatan tersebut, kita harus memiliki wadah; atau ciptakanlah waktu spesial bagi keluarga! Keluarga sangat membutuhkan kebersamaan. Cobalah mengerti, luangkan satu waktu bersama isteri dan anak. Jika selesai kerja dan hendak ke café, sekali-kali kita dapat mengajak isteri dan anak-anak. Have fun bersama-sama.

Coba kita pikirkan, apa yang kira-kira akan mereka katakan ketika ajal kita datang. Apakah mereka akan berkata, “Ayah adalah seorang pekerja keras, dia selalu pulang malam, bahkan hari liburpun bekerja, tapi maafkan kami, kami tidak mengenal siapa engkau, Ayah!” Atau begini, “Ayah adalah seorang yang penuh kasih. Di tengah kesibukan, ia selalu memberikan diri ketika kami membutuhkannya. Dia seorang yang tegas, tahu bagaimana bersenang-senang bersama kami. Engkau akan selalu ada di dalam hati kami. Terima kasih Ayah, engkau telah mengajarkan kehidupan.” Manakah pilihan Anda? Mulai tentukan dari sekarang, apalagi jika hari ini hubungan suami-isteri agak renggang, usahakanlah lebih mendekat!

STUDI PRIBADI: Bagaimana sebaiknya hubungan seorang Ayah dengan anggota keluarga lainnya? Bagaimana cara Anda mengusahakan hubungan yang baik di antara mereka?
DOAKAN BERSAMA: Berdoalah bagi pasangan suami-istri agar hidup takut Tuhan dan doakanlah para Ayah agar dapat memiliki relasi yang baik dengan isteri dan anak-anak mereka sehingga tercipta hubungan keluarga yang mesra.

RENUNGAN (23 september 2011)

Bejana yang Baik

Bacaan hari ini: Yeremia 18:1-6
“Pergilah dengan segera ke rumah tukang periuk! Di sana Aku akan memperdengarkan perkataan-perkataan-Ku kepadamu.” (Yeremia 18:2)

Kehidupan bergereja masa kini menunjukkan adanya gejala yang kurang baik. Artinya seringkali ditemukan, bahwa ada beberapa jemaat yang suka berpindah-pindah tempat ibadah, atau jemaat yang merasa tidak “berfungsi sebagaimana mestinya.” Padahal, Gereja adalah Tubuh Kristus yang terdiri dari banyak anggota, yang seharusnya memiliki (berperan sesuai) fungsinya masing-masing. Gejala di atas tentu dapat disebabkan oleh berbagai kemungkinan dalam proses pertumbuhan gereja tersebut. Namun salah satu sebab terjadinya kehidupan gereja yang kurang baik itu adalah “seperti bejana yang retak, yang harus dibuang dan disia-siakan!”

Ketika Allah berfirman pada Yeremia tentang bejana di tangan tukang periuk; ini menunjukkan sikap bangsa Israel yang pada waktu itu berada di tanah pembuangan Babel. Allah telah “membuang” mereka. Bangsa Israel telah berpaling kepada (mencari) illah atau dewa-dewa bangsa kafir; dan sikap ini tentu sangat menyedihkan hati Allah (ay. 11, 12). Oleh sebab itu, melalui firman-Nya, Nabi Yeremia mengingatkan bangsa pilihan Allah ini tentang: (1) Pikiran Allah. Yaitu Allah tidak pernah berpikir untuk membuang “bejana-bejana” yang retak, melainkan Allah akan membawa bejana-bejana tersebut untuk diperbaiki bahkan mungkin harus dihancurkan untuk dibentuk ulang. (2) Hati Allah. Yaitu Allah selalu merindukan relasi yang baik dengan Umat-Nya. Allah selalu menyatakan diri-Nya melalui firman-Nya, supaya umat-Nya dapat berelasi dengan baik dan memahami isi hati-Nya. (3) Kehendak Allah. Yaitu Allah selalu memiliki rencana pemulihan yang terbaik, yang diberikan pada “bejana-bejana yang retak” untuk kemuliaan-Nya. Meski, terkadang rencana pemulihan itu harus melalui api pemurnian sehingga bejana itu dapat menjadi bejana yang siap untuk dipakai sesuai dengan kehendak-Nya.

Bagaimana dengan kita? Ketika hidup kita mulai digambarkan sebagai bejana yang retak, jangan lagi kita berpaling dari Allah dan mencurigai-Nya; melainkan jadilah kehendak-Nya!

STUDI PRIBADI: Apa yang Allah lakukan untuk memperbaiki umat-Nya? Apa yang menjadi tujuan Allah mendisiplin umat-Nya?
DOAKAN BERSAMA: Berdoalah bagi jemaat Tuhan agar mereka tidak menganggap bahwa Allah tidak peduli atas mereka ketika hidup mereka dibentuk kembali oleh Tuhan menjadi bejana bagi kemuliaan-Nya.